10 TAHUN PENGAWASAN OJK – Pasar Modal Indonesia Lebih Inklusif dan Bergairah

Selama 10 tahun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beroperasi, banyak kemajuan yang terjadi di pasar modal Indonesia. Peningkatan jumlah investor dan emiten, serta aktivitas transaksi di pasar modal menjadi indikator utama dari kemajuan tersebut.

***

Pada awal OJK lahir, yakni setelah pengesahan Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2011, jumlah investor pasar modal baru mencapai 365.687. Bahkan setelah lembaga ini dibentuk secara resmi pada 2012, jumlah investor menjadi 281.256 orang. Stagnasi dari sisi jumlah investor ini terjadi hingga tahun 2014.

Pada 2015, jumlah investor perlahan meningkat dan mencapai peningkatan drastis pada tahun 2016 menjadi 894.116. Kemudian, jumlah investor ‘pecah telur’ di atas 1 juta pada tahun 2017 dan berlanjut pada tahun 2020.

Seiring pandemi Covid-19, penambahan jumlah investor mencapai puncaknya pada tahun 2021. Tepatnya pada September 2021, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, jumlah investor sudah mencapai 6,43 juta atau meningkat sekitar 1.658% dari periode 2011. Investor reksa dana mendominasi, yaitu sebanyak 5,78 juta. Selanjutnya, investor saham sebanyak 2,9 juta dan investor surat berharga negara (SBN) sebanyak 571.794.

Investor pasar modal.
KSEI

Baca juga: Matematika Keuangan, Edisi-4 Revisi

Peningkatan jumlah investor menjadi kunci utama indikator kemajuan lainnya di pasar modal Tanah Air. Salah satunya jumlah emiten saham di bursa yang juga meningkat seiring dengan maraknya perusahaan yang melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Pada 2011, jumlah emiten di bursa baru mencapai 442 perusahaan. Namun, pada 1 November 2021, jumlah emiten sudah mencapai 752 perusahaan.

Dampak positif dari bertambahnya supply dan demand di pasar modal adalah nilai kapitalisasi pasar yang terus menggunung. Pada 2011, nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) baru mencapai Rp 3.537 triliun. Namun, pada September 2021, nilai kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp 7.715 triliun.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengungkapkan, melesatnya jumlah investor dan emiten, serta aktivitas transaksi di pasar modal tidak terlepas dari makin baiknya pengawasan OJK. “Pada awal 2012, jumlah investor saham hanya sekitar 200 ribu, namun saat ini sudah 2,9 juta dengan emiten yang meningkat dari 440 menjadi sekitar 750 perusahaan,” kata dia.

Kepemilikan saham.
KSEI

Baca juga: Gesit dan Taktis di Pasar Modal

Banyak Perbaikan

Di lain pihak, Head of Research PT Yuanta Sekuritas Indonesia Chandra Pasaribu mengemukakan, pasar modal mengalami banyak perbaikan selama diawasi oleh OJK. Perbaikan ini terutama terkait dengan perlindungan investor publik dan kecepatan transaksi.

Berkat kerja sama antara OJK dengan BEI dan KSEI, terdapat integrasi data dan identifikasi investor tunggal dalam single investor identification (SID). “Dengan adanya integrasi data ini, dana maupun saham nasabah tidak dapat diperdagangkan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Sehingga menjadi lebih aman untuk investor individu,” jelas dia.

Dari sisi kecepatan transaksi, saat ini penyelesaian transaksinya jauh lebih cepat menjadi T+2 atau setelah dua hari kerja. Menurut Chandra, kecepatan transaksi ini masih bisa ditingkatkan karena semua transaksi di pasar modal dilakukan secara elektronik, sehingga prosesnya jauh lebih efisien.

Sementara itu, Head of Investment PT Avrist Asset Management Ika Pratiwi Rahayu menegaskan, selama OJK menjadi pengawas pasar modal memang terdapat perbaikan dari sisi perlindungan investor publik dan pengawasan terhadap kegiatan di pasar modal.

“Hal ini sesuai dengan tujuan dibentuknya OJK, yakni untuk melindungi kepentingan publik dengan menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap seluruh kegiatan jasa keuangan di pasar modal,” terang dia.

Baca juga: BEI Target Kapitalisasi Pasar Rp13.500 Triliun Pada 2026, Ini Komentar Guru Besar UI

Kendati demikian, masih ada catatan dalam pengawasan OJK, seiring munculnya beberapa kasus di pasar modal. Namun, permasalahan ini memang tidak bisa sepenuhnya berada di tangan OJK, tapi disebabkan oleh integritas individu dan pengawasan internal yang kurang baik di perusahaan, misalnya di perusahaan efek, manajemen aset, perusahaan terbuka, atau lainnya.

Pengamat Pasar Modal Reza Priyambada mengatakan, kasus yang terjadi di pasar modal memang tidak bisa dihindari. Hal ini karena akan selalu ada oknum yang akan mencari celah untuk kepentingannya sendiri. Sejauh ini, menurut Reza, OJK sudah melakukan perbaikan dalam mengatasi berbagai kasus di pasar modal. Partisipasi masyarakat juga sangat dibutuhkan.

1.000 Emiten

Dengan meningkatnya peran OJK dalam mengatur dan mengawasi pasar modal, Ika berharap pasar modal Indonesia bisa berlangsung stabil dan berkelanjutan. Perbaikan ini tentunya bisa mendorong peningkatan jumlah investor dan emiten, serta aktivitas transaksi di pasar modal menjadi lebih bergairah.

Baca juga: Wake Up Call: Refinancing KPR Itu Mudah

Tahun depan, OJK bersama self regulatory organization (SRO) pasar modal berharap jumlah investor bisa bertumbuh 30% dan jumlah emiten bisa melebihi 1.000 perusahaan. Sedangkan nilai kapitalisasi pasar di BEI bisa mencapai Rp 10.000 triliun sebelum 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menjelaskan, pihaknya melakukan sosialisasi kepada calon emiten korporasi agar memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif pembiayaan. Masuknya unicorn dan decacorn ke bursa saham domestik diharapkan dapat mendongkrak market cap di BEI dan menarik lebih banyak investor.

OJK bersama BEI tengah menyiapkan sejumlah regulasi, yang sesuai dengan karakteristik unicorn dan decacorn. Kemudian, OJK juga memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM melalui kebijakan securities crowdfunding (SCF) sebagai alternatif pendanaan bagi pelaku UMKM.

OJK juga berusaha meningkatkan jumlah investor. Melalui sosialisasi dan edukasi pasar modal, program digitalisasi pemasaran reksa dana, simplifikasi pembukaan rekening efek, memperbanyak galeri investasi di seluruh Indonesia, memberikan izin usaha perusahaan efek daerah, serta sosialisasi e-IPO agar pasar modal menjadi lebih inklusif.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Source: https://investor.id/market/269546/pasar-modal-indonesia-lebih-inklusif-dan-bergairah

Related Posts