Wake Up Call: Inflasi Tinggi Meredam Optimisme Investor

Wake Up Call: Inflasi Tinggi Meredam Optimisme Investor

oleh : Budi Fresidy

Perekonomian Indonesia tahun 2021 ditutup dengan pujian. Tiga indikator utama ekonomi semuanya menggembirakan.  Pertumbuhan ekonomi meningkat dari minus 2,1% di 2020 menjadi +3,7% di 2021. inflasi tetap rendah di bawah 2%, dan nilai tukar stabil di Rp14.263. Tak mau ketinggalan, ekspor, neraca dagang, dan realisasi pendapatan negara ikut mencatatkan angka-angka terbaiknya.

Setelah sempat berada di posisi 30 besar dunia di tahun 2011 dengan nilai 203,6 miliar $. Ekspor kita kembali menembus angka keramat 200 miliar $ dan berada diperingkat 27 global dengan 231,5 miliar $ tahun 2021 lalu. Surplus neraca dagang pun melesat hingga 35,3 miliar $. Tertinggi sejak tahun 2006 dan transaksi berjalan ikut surplus 3,3 miliar $, surplus pertama setelah sepuluh tahun selalu defisit. Sejalan dengan kinerja di atas, realisasi pendapatan negara juga tembus melampaui target untuk pertama kali dalam 12 tahun yaitu 115,4% di Rp2.011,3 triliun untuk tahun 2021.

Baca juga: Wake Up Call: Refinancing KPR Itu Mudah

Dengan rapor ekonomi sedemikian bagus, investor saham menatap tahun 2022 dengan penuh optimisme. Kurang dari empat bulan, IHSG melesat ke 7.276, melebihi kenaikan indeks sepanjang tahun 2021 yang 10,1%. Investor saham dan analis sepakat jika IHSG berpeluang besar menyentuh 7.500 di akhir tahun. Dengan normalnya mobilitas masyarakat pascapandemi, wajar saja jika investor saham memprediksi kinerja IHSG tahun ini akan lebih baik dari 2021.

Jika negara lain dipusingkan dengan naiknya harga energi dan pangan, Indonesia sebagai produsen utama batubara dan CPO dunia termasuk yang sangat diuntungkan. Harga kedua komoditas itu terus mencatat all time high alias tertinggi sepanjang masa sejak terganggunya rantai pasok global akibat pandemi.  Yang diperparah dengan meletusnya perang Rusia-Ukraina akhir Februari 2022 lalu. Jika kita bandingkan dengan 2018, harga minyak mentah Brent sempat naik 186 persen, gas alam melesat 285 persen, batubara melonjak 385 persen. Demikian juga dengan harga pangan seperti gandum, kedelai, dan kelapa sawit yang sempat naik 200 persen lebih masing-masingnya.

Laba bersih puluhan korporasi di sektor batubara dan sawit pun meroket, beberapa bahkan mencetak rekor tertingginya. Namun, kebijakan DMO di Februari 2022 dan kemudian DPO untuk industri sawit membuyarkan  prospek puluhan perusahaan sawit di negeri ini. Sebelumnya, eksportir CPO sudah dikenai bea keluar $200 perton dan pungutan ekspor (levy) hingga $375 per ton saat harga $1.500. Setelah ada potongan $575 per ekspor $1.500, DMO, dan DPO, pada 28 April muncul lagi larangan ekspor CPO sehingga industri sawit seperti sudah jatuh tertimpa tangga pula. Nasib jutaan petani sawit pun terkena imbasnya karena harga TBS (Tandan Buah Segar) yang mereka terima jatuh hingga di bawah Rp1.000 dari normalnya Rp2.000-Rp3.000 per kg.

Baca juga: BEI Target Kapitalisasi Pasar Rp13.500 Triliun Pada 2026, Ini Komentar Guru Besar UI

Akibat larangan ekspor sawit di atas, harga CPO dunia menembus 7 ribu ringgit per ton tetapi hanya eksportir Malaysia yang menikmatinya. Sementara perusahaan dan petani sawit Indonesia hanya bisa gigit jari menontonnya. Untungnya, ekspor sawit sudah dibuka kembali akhir Mei lalu dan pungutan ekspor hingga akhir Agustus 2022 dihapus. Harapannya, harga CPO dan TBS dapat kembali normal. Kenyataannya, pencabutan larangan ekspor dan penghapusan pungutan ekspor ini too late and too little. Stok CPO di gudang perusahaan sawit sudah mencapai 10 juta ton, jauh di atas kondisi normal yang 2-3 juta ton. Beberapa perusahaan terpaksa menyimpan persediaannya di kapal-kapal pengangkutan (floating). Pasokan yang melimpah membuat harga CPO turun 45% dari harga tertingginya. Mungkin baru di akhir tahun harga CPO dan TBS menjadi stabil, sesuai harapan produsen dan petani sawit.

Jika industri sawit tak putus dirundung malang, industri batubara dan komoditas andalan Indonesia lainnya masih meneruskan kejayaannya hingga saat ini. Ekspor dan surplus neraca dagang RI semester 1, 2022 kembali mencetak rekor sepanjang sejarah yaitu 141,2 miliar $ di peringkat 25 dunia dengan surplus 24,9 miliar $. Neraca dagang yang surplus selama 26 bulan terus-menerus juga belum pernah terjadi sebelumnya. Realisasi pendapatan negara semester 1 pun mencapai Rp1.317, 2 triliun atau 58,1% dari target tahun 2022 di Rp2.266,2 triliun.

Baca juga: 10 TAHUN PENGAWASAN OJK – Pasar Modal Indonesia Lebih Inklusif dan Bergairah

Ironisnya, sebagian besar negara-negara di dunia mengalami inflasi tinggi akibat melonjaknya harga energi dan pangan. Amerika Serikat (AS) mengalami inflasi terbesar dalam 40 tahun yaitu 9,1% yoy di akhir Juni lalu. Ini 4-5 kali inflasi normal mereka. Inggris juga 9,1%, Uni Eropa 8,6%, Brasil 11,9%, Rusia 15,9%, Turki 78,6%, dan Venezuela 167%. Akibatnya, hampir semua negara di dunia menaikkan suku bunganya. Bunga the Fed, contohnya, sudah naik tiga kali dari 0,25% di awal tahun menjadi 1,75% saat ini dan diperkirakan akan dinaikkan lagi menjadi 3,25% di akhir tahun. Hanya sedikit negara yang masih mempertahankan suku bunga acuannya termasuk Indonesia.

Naiknya suku bunga dan tingkat diskonto pada akhirnya akan membuat valuasi semua aset berubah termasuk saham. Itulah yang terjadi dengan indeks saham di banyak negara. Menurut catatan harian Kontan minggu lalu, dari 11 bursa saham yang dibandingkan, sepuluh mengalami penurunan indeks ytd sebesar -0,9% hingga -21,3%. Yaitu bursa Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, China, Hong Kong, Jepang, Amerika, dan Inggris. Hanya indeks kita yang positif 4,6% hingga akhir minggu lalu. Jika saat ini indeks kita sulit bertahan di atas 7.000, itu karena nilai tukar dolar AS menembus 15 ribu mengiringi terjadinya capital outflow. Melemahnya rupiah hingga ke 15 ribu per dolar AS adalah wajar dan masih lebih baik jika dibandingkan depresiasi mata uang lainnya. Karenanya, saya percaya IHSG akan kembali menuju 7.300 ketika arus dana asing berbalik masuk.

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul “Wake Up Call: Inflasi Tinggi Meredam Optimisme Investor”, Link selengkapnya di sini: https://investasi.kontan.co.id/news/perbaikan-fundamental-jadi-penyebab-saham-saham-ini-bangkit-dari-zona-gocap.

Penulis   : Budi Frensidy
Reporter: Harian Kontan
Editor     : Haris Hadinata

Related Posts

Budi Frensidy

Experienced Lecturer with a demonstrated history of working in the financial services industry. Skilled in Analytical Skills, Lecturing, Macroeconomics, Behavioral Finance, and Management. Strong education professional with a Doktor focused in Keuangan from Universitas Indonesia.

Recent Articles

11Rekomendasi Saham Perbankan Besar
August 2, 2022
Simak Rekomendasi Saham Perbankan Besar Usai Laporan Keuangan Semester I-2022
11
July 30, 2022
Perbaikan Fundamental Jadi Penyebab Saham-Saham Ini Bangkit dari Zona Gocap
11
July 29, 2022
Budi Frensidy Soroti Pentingnya Matematika Keuangan untuk Pahami Investasi

Tag Cloud

Post Category